Berita & Peristiwa

Perjuangkan Kaum Difabel Dalam Konferensi Internasional

Yogyakarta – Angela Shinta Dara Puspita mewakili Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam ajang The Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities (ASEACCU) Conference pada tanggal 21 – 27 Agustus 2017 lalu.

Konferensi yang telah diselenggarakan 25 kali tersebut mengangkat tema “Catholic Universities and Inclusive Education: Transforming Spaces Promoting Practices, Changing Minds”. Latar belakang kegiatan ini guna mengangkat nilai-nilai katolik di lingkup internasional, khususnya bagi pelaku pendidikan. Tuan rumah konferensi kali ini berada di The Assumption University Suvarnabhumi Campus, Thailand.

“Jadi selama seminggu, aku dapat pendidikan inklusif, baik fisik maupun mental. Kita saling bertukar pengalaman dan ide mengenai kondisi kaum difabel di negara kita masing-masing,” ujar Angel.

Angela Shinta Presentasi Kampanye   Melalui Media Sosial (5)

Dalam kegiatan tersebut, Angel bersama kelima delegasi dari negara lain mempresentasikan tentang implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk implementasinya berupa kampanye individu dan kampanye melalui media digital.

Kampanye individu adalah cara seseorang untuk menggunakan dirinya sebagai alat kampanye. Dimulai dari tindakan sederhana, seperti tidak membedakan para difabel dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu, kampanye melalui media digital bertujuan untuk membangun kepedulian orang lain terhadap kaum difabel.

Tujuan kampanye inklusif itu mengacu pada tiga hal, yakni rekognisi, persepsi, dan aksi. Rekognisi berarti menjaring masyarakat untuk sadar akan isu difabel. Persepsi bermaksud untuk mengubah pola pikir masyarakat yang lekat akan stigma. Persepsi kaum difabel bukanlah orang-orang yang merepotkan dan mengganggu perlu ditanamkan. Terakhir, kampanye mampu membawa aksi nyata dan perubahan bagi kaum difabel.

Angela Shinta Presentasi Tujuan   Kampanye bagi Kaum Difabel (1)

Konferensi ASSEACCU ke-25 ini dihadiri oleh beragam universitas Katolik dari beberapa negara, seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Timor Leste, Kamboja, dan Australia. Sehingga terdapat nilai-nilai Katolik yang ikut ditanamkan, yakni cinta kasih dan hormat bagi para kaum difabel.

“Cinta kasih adalah nilai yang bisa diaplikasikan dalam ranah apapun. Hormat sebenarnya berkaitan dengan penerimaan. Jadi sebelum mencintai orang lain, kita harus mencintai, menerima diri sendiri,” tutur mahasiswa FISIP UAJY itu.

Lainnya: