Home Jaringan APTIK

Hari Studi APTIK 2010

Hari Studi APTIK 2010

Arah Perkembangan Gereja Katolik Indonesia

Masa Yang Akan Datang

Hari Studi APTIK 2010 diselenggarakan di Hotel Novotel Surabaya, pada tanggal 29 - 31 Oktober 2010.

Panitia Hari Studi APTIK 2010 adalah Yayasan Dharma Cendika, Surabaya.

Berikut kata Sambutan oleh Ketua APTIK ketika pembukaan Hari Studi APTIK 2010 :

Yth Rm. Dwi Djoko Vikjen Keuskupan Surabaya

Para Romo, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, Suster dan para Undangan sekalian.

Selamat datang dan selamat berjumpa kembali di hari studi APTIK 2010

Tiap  hari Studi kita mempunyai tema tertentu dan pada hari Studi tahun ini seperti tadi sudah disebut, tema kita adalah Arah Perkembangan Gereja Katolik di Indonesia pada Masa Akan Datang.

Tema ini dan hari studi ini merupakan salah satu pelakasanaaan dari RENSTRA APTIK tahun 2005-2010. Dalam salah satu Renstra APTIK, berusaha menjadi suatu copartner dari KWI, dan dalam hal ini APTIK ingin menyumbangkan suatu pemikiran khususnya dari para intelektual awam dari anggota APTIK dan kerabatnya. Bagaimana dipandang dari segi pengalaman awam, sebaiknya arah perkembangan Gereja kita adalah dimaksudkan menjadi masukan bagi pimpinan gereja di Indonesia.

 

Sejak RUA dari tahun lalu sudah dibentuk tim untuk menyiapkan hal ini yang diketuai oleh sudah oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Y Marsono, MS dengan anggotanya Rm. Ageng Marwoto , Rm. Dr. St. Suratman Gitowiratmo, Pr. dan  Bapak Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum, mereka yang mempersiapkan segala sesuatu sampai nanti merangkum hasilnya.

Inetelektual awam ingin menyumbang sesuatu karena biasanya pada rapat-rapat KWI sumbangan pikiran dari para clearus dan sedikit terbatas sumbangan pemikiran dari para intelektual awam.

Oleh karena itu disamping kita mengundang 3 narasumber yang membantu kita menggeluti masalah ini, yang semuanya juga awam, maka dalam proses diskusi, para awam diharapkan agar lebih aktif. Tidak berarti para romo diam saja tetapi mohon sedikit menahan diri dan memberikan semangat bagi para awam untuk berbicara. Saya juga dalam hal ini tidak ingin mengembangkan dikotomi antara awam dan clearus. Disini juga ada para suster, pertanyaanya adalah “Suster apakah termasuk awam atau tidak?”

 

Pertanyaan ini jawabannya cukup menarik. Dalam dokumen Gereja terdapat difinisi berlainan tentang awam. Kita ketahui bahwa mengenai awam,  peran awam, maratabat awam dan kerasulan awam pertama kali diumumkan dalam dokumen-dokumen hasil Konsili Vatikan II, khususnya konstitusi dokmatis tentang Gereja, Lumen Gentium dan juga dekrit tentang kerasulan awam Apostolica Sitatem.

Dalam Lumen Gentium butir 31 dikatakan demikian

“ Yang dimasudkan dalam istilah awam ialah adalah semua yang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang didalam Gereja.”

Maka disini bruder dan suster tidak termasuk awam, bila klerus atau imam itu jelas.

 

Definisi ini juga dikutip dalam katekismus kita yang baru. Namum dalam kitab hukum kanonik kanon 2007 mengatakan begini:

“ Oleh ketetapan Ilahi diantara orang-orang beriman kristiani dalam Gereja ada pelayan-pelayan rohani yang dalam hukum juga disebut para klerikus atau klerus sedangkan lain-lainnya awam.”

Maka dalam hal ini suster juga disebut awam.

Waktu saya tanyakan 2 imam Teolog yang terkenal jawabannya ada 2 (dua) yang berbeda dan malah bertolak belakang.

 

Imam Teolog yang pertama mengatakan, Yang dihukum kanonik, merupakan difinisi secara Teologis, sedangkan dalam Lumen Gentium merupakan secara Tipologis. Sedangkan Imam Teolog yang kedua Lumen Gentium merupakan difinisi awam secara Teologis, sedangkan Hukum Kanonik merupakan definisi Yuridis formal.

Maka kebenarnannya belum bisa ditetapkan. Saya kemukakan sekali lagi bahwa saya tidak ingin mengembangkan dikotomi antara awam dan klerus.

Saya ingin menunjukkan konotasinya bahwa sumbangan intelektual awam dari para anggota APTIK dan kerabatnya dalam pengembangan gereja Indonesia yang akan datang.

 

Istilah gereja di Indonesia merupakan diskusi antara beberapa anggota pengurus. Yang benar itu Gereja di Indonesia atau Gereja Indonesia. Ada yang mengatakan yang benar itu adalah Gereja di Indonesia karena kita hanya mengenal istilah Gereja Universal dan Gereja Partikular yaitu keuskupan.  Tetapi yang lain mengatakan adalah Gereja Indonesia, karena Gereja di Indonesia lebih menekankan pada tempat sedangkan Gereja Indonesia lebih menekankan pada sifat dan karakter khas Indonesia. Dalam  sebuah buku pernah diulas dari gereja di Indonesia menjadi gereja Indonesia. Dari Gereja Misi menjadi Gereja Mandiri.

 

Sebagai akhir saya ingin ucapakan terima kasih

  1. Bapak Marsono dan timnya yang sudah menyiapkan hari ini.
  2. 3 (tiga) narasumber Dra.Francisia Saveria Sika Ery Seda, MA., Ph.D.; Prof. Dr. A. Ramlan Surbakti; Dr. Anton Haryono M.Hum. mereka akan membantu kita dari segi disiplin dan pengalaman masing-masing. Ibu Ery Seda dari bidang sosilog, bapak  Anton dari bidang sejarah khususnya menekuni sejarah Misi di Yogyakarta, dan bapak Ramlan dari bidang politik.
  3. Atas nama badan pengurus dan seluruh anggota yang hadir mengucapkan terima kasih kepada pimpinan yayasan dan Unika Darma Cendika Bpk. Subroto Untario dan Ibu Yovita.

Romo Vikjen dapat saya sampaikan bahwa ketua Yayasan Darma Cendika ini sejak sebelum menjadi anggota, sampai sekarang sangat rajin mengikuti semua acara dan kegiatan APTIK jadi sudah layak didiukung oleh keuskupan.

Terima kasih