Menggali Filosofi Pendidikan dan Kepedulian Sosial
Dalam mewujudkan filosofi pendidikan, perlu diperjuangkan praktik pendidikan yang memperhatikan keberagaman, kebebasan kreatif, pemberdayaan rakyat, subsidiaritas, dan pencerdasan bangsa.
Hal ini ditegaskan Ketua Komisi Pendidikan (Komdik) KWI, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ dalam Pembukaan Rapat Umum Anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (RUA APTIK) ke 27 di Gedung Pasifikus, Paroki Katedral, Pontianak. RUA APTIK yang diadakan di hotel Mercure, Pontianak, Kalimantan Barat, 8 - 11 Maret 2010 ini mengusung tema:Menggali Filosofi Pendidikan dan Memerangi Kemiskinan, Penyakit dan Ketidakadilan
Menurut Drs. R. Djokopranoto, Ketua Badan Pengurus APTIK, tema di atas sejalan bahkan merupakan salah satu wujud konkrit dari ciri preferential option for the poor. Gagasan ini mengingatkan para penyelenggara pendidikan Katolik untuk memperhatikan dan memfokuskan diri pada ketiga wacana : kemiskinan, penyakit dan ketidakadilan. Lebih lanjut tema tersebut merupakan pelaksanaan salah satu Rencana Strategis (Renstra) APTIK 2006 - 2010, yakni berpartisipasi dalam usaha Gereja memberi jiwa kepada proses globalisasi agar lebih berciri manusiawi.
Dalam sambutannya, Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, M.H. menghimbau agar kaum intelektual Katolik hendaknya tekun menggali akar-akar kemiskinan dan keterbelakangan bangsa. Penyelenggara pendidikan Katolik dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Ketua Pelaksana RUA, Gabriel Christanmas, S.E.,M.M. mengemukakan bahwa peserta RUA APTIK terdiri dari Badan Pengurus APTIK, Komisi Pendidikan KWI, pengurus yayasan dan pimpinan universitas. sekolah tinggi dari 16 anggota tetap APTIK, koordinator jaringan, dan anggota peninjau yang keseluruhannya berjumlah 98 orang. Perserta Ladies Program berjumlah 12 orang. Untuk mempersiapkan penyelenggaraan RUA dibentuk panitia pelakasana berjumlah 25 orang.
Acara RUA APTIK dibuka dengan misa syukur yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM.Cap., didampingi Ketua Komdik KWI Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ dan Pembina Yayasan Widya Dharma Pontianak, Pastor Dr. Willy Brodus, OFM.Cap. di Gereja Katedral St. Yoseph, Pontianak. Selain peserta rapat, misa juga dihadiri segenap undangandan umat Paroki Katedral Pontianak. Usai misa, para peserta menuju Gedung Pasifikus di belakang Gereja Katedral untuk acara pembukaan yang ditandai pemukulan gong oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelius, M.H. Setelah itu seluruh acara rapat berikutnya diadakan di Hotel Mercure Pontianak.
RUA APTIK ke-27 di Pontianak memutuskan sejumlah keputusan strategis untuk pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan Katolik. Salah satu keputusan utama yang mendapat sorotan intensif ialah Keputusan untuk menyusun draft pedoman umum penerapan Konstitusi Apostolik Ex Corde Ecclesiae. Dekrit yang dikeluarkan pada tanggal 15 Agustus 1990 oleh Paus Yohanes Paulus II ini bertujuan mendefinisikan kekatolikan lembaga pendidikan tinggi Katolik. Pedoman umum itu akan menjadi acuan bagi para anggota untuk merancang panduan aplikatif yang kontekstual dengan mempertimbangkan kekhasan sosio-kultural, tantangan, dan berbagai kondisi khas di tiap daerah. Kepedulian sosial diwujudkan dengan penerapan prinsip solidaritas dalam pendidikan yang memberdayakan rakyat, lebih berpihak kepada yang miskin, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Di tengah arus globalisasi, di samping tetap built to last, perguruan tinggi juga harus built to bless.
(seperti yang ditulis oleh Lianto, Dosen STIE Widya Dharma, Pontianak di Majalah DUTA no. 272 Maret 2010, terbitan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak)